Tampilkan postingan dengan label softskill. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label softskill. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Oktober 2012

Telematika,dulu kini dan nanti.

Definisi :Kata telematika berasal dari istilah dalam bahasa Perancis telematique, yang atinya adalah sebuah gabungan sistem jaringan komunakisa dan teknologi informasi ( Telecomunication and Informatics ) sebagai wujud dari perpaduan konsep computing and communication . Istilah telematika juga dikenal sebagai ( The New Hybrid Technology ) yang lahir karena perkembangan teknologi digital. Istilah telematikan juga merujuk pada hakekat cyberspace, yaitu sebagai suatu sistem elektronik yang lahir dari perkembangan dan konvergensi telekomunikasi, media dan informatika. Istilah Teknologi Informasi itu sendiri merujuk pada perkembangan teknologi perangkat-perangkat pengolah informasi. Perkembangan ini memicu perkembangan teknologi telekomunikasi dan informatika menjadi semakin terpadu atau populer dengan istilah konvergensi. Semula Media masih belum menjadi bagian integral dari isu konvergensi teknologi informasi dan komunikasi pada saat itu. Belakangan baru disadari bahwa penggunaan sistem komputer dan sistem komunikasi ternyata juga menghadirkan Media Komunikasi baru. Lebih jauh lagi istilah TELEMATIKA kemudian merujuk pada perkembangan konvergensi antara teknologi telekomunikasi, media dan informatika yang semula masing-masing berkembang secara terpisah. Konvergensi TELEMATIKA kemudian dipahami sebagai sistem elektronik berbasiskan teknologi digital atau {the Net}. Sejarah : Perkembangan teknologi informasi (telematika) terkait dengan jaringan yang terhubungdiawali pada tahun 1962, ketika Departemen Pertahanan Amerika Serikat melakukan risetpenggunaan teknologi komputer untuk kepentingan pertahanan udara Amerika Serikat. Melalui lembaga risetnya yaitu Advanced Research Project Agency (ARPA) menugasi the New Information Processing Techniques Office (IPTO), yaitu suatu lembaga yang diberi tugas untuk melanjutkan riset penggunaan teknologi komputer di bidang pertahanan udara. Selanjutnya Pada tahun 1969 Departement Pertahanan Amerika Serikat menemukan sebuah teknologi yangesensinya memadukan teknologi telekomunikasi dengan komputer yang dikenal dengaan nama ARPANet (Advanced Research Projects Agency Network) yaitu system jaringan melaluihubungan antar komputer di daerah-daerah vital dalam rangka mengatasi masalah jika terjadi serangan nuklir. Perkembangan :   Keberhasilan dalam memadukan teknologi tersebut atau yang dikenal dengan istilahteknologi informasi (information technology) pada tahun 1970 mulai dimanfaatkan untukkeperluan non-militer oleh berbagai universitas. Pada dekade inilah sebenarnya manusia telahmemasuki era baru yaitu melalui perkembangan teknologi informasi telah dimanfaatkan manusia hampir di semua aspek kehidupan. Berpadunya globalisasi dan kemajuan teknologi bidang informasi dan komunikasi, telahmendorong munculnya jenis-jenis transaksi bisnis yang baru dan secara berangsur cara-cara bisnis yang lama ditinggalkan. Bukan saja bisnis menjadi semakin maju, tetapi juga jenis-jenistransaksinya makin banyak, makin canggih dan makin cepat proses penyelesaiannya. Di pihaklain hal ini tentunya ekses negatif yang timbul tidak dapat dihindari, karena dapat memunculkanjenis-jenis kejahatan bisnis (business crime) baru, dan menimbulkan persoalan lain sepertipelanggaran privacy, pornography, counterfeiting, defamation, hackers, drug cartel,cyberquatting, international money laundering. Sedangkan dari sisi hukum, berkembangnyakegiatan teknologi informasi menimbulkan persfektif dalam cabang ilmu hukum antara lain,hukum perdata, pidana, tata negara, administrasi negara dan internasional, dan dari perspektif spesialisasi bidang hukum adalah hukum pasar modal, perbankan, hak atas kekayaan intelektual, dan pajak. Untuk di Indonesia, perkembangan telematika mengalami tiga periode berdasarkan fenomena yang terjadi di masyarakat. Pertama adalah periode rintisan yang berlangsung akhir tahun 1970-an sampai dengan akhir tahun 1980-an. Periode kedua disebut pengenalan, rentang wktunya adalah tahun 1990-an, dan yang terakhir adalah periode aplikasi. Periode ketiga ini dimulai tahun 2000.Bangsa Indonesia berusaha untuk tidak tertinggal dengan bangsa lain menyangkut telematika. Dengan dirintis oleh beberapa orang yang berdedikasi pada dunia akademisi, pengenalan dunia telematika mulai dilakukan seiring berkembangnya situasi politik dan ekonomi.Dukungan politik pemerintah dengan berbagai kebijakannya, lebih menggairahkan telematika di Indonesia, dan tentunya industri, serta pengaruh luar negeri mengambil peranan penting disamping ketertarikan masyarakat yang membutuhkannya.Perkembangan telematika di Indonesia mengalami peningkatan, sejalan dengan inovasi teknologi yang terjadi. Prospek ke masa depan, telematika di Indonesia memiliki potensi yang tinggi, baik itu untuk kemajuan bangsa, maupun pemberdayaan sumber daya manusianya.Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa telematika merupakan teknologi komunikasi jarak jauh, yang menyampaikan informasi satu arah, maupun timbal balik, dengan sistem digital. Tren : Dunia kini sudah sangat hi-tech (mencuri ungkapan B.J Habibie). Tak bisa dipungkiri bahwa perkembangan zaman memaksa manusia membutuhkan teknologi untuk membantu hidupnya. Akhirnya,para perusahaan pengembang teknologi terus berlomba menciptakan inovasi agar mampu menggaet pasar yang luas,sehingga menarik keuntungan yang sangat fantastis. Diperkirakan,kedepannya,semua lini hidup akan dipenuhi oleh hal yang berbau teknologi dan kita diminta siap akan hal itu.

Minggu, 01 April 2012

Dampak Perdagangan Bebas untuk Sarjana Komputer

Perdagangan bebas adalah sebuah konsep ekonomi yang mengacu kepada Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) dengan ketentuan dari World Customs Organization yang berpusat di Brussels, Belgium. penjualan produk antar negara tanpa pajak ekspor-impor atau hambatan perdagangan lainnya.
Perdagangan bebas dapat juga didefinisikan sebagai tidak adanya hambatan buatan (hambatan yang diterapkan pemerintah) dalam perdagangan antar individual-individual dan perusahaan-perusahaan yang berada di negara yang berbeda.

Perdagangan internasional sering dibatasi oleh berbagai pajak negara, biaya tambahan yang diterapkan pada barang ekspor impor, dan juga regulasi non tarif pada barang impor. Secara teori, semuha hambatan-hambatan inilah yang ditolak oleh perdagangan bebas. Namun dalam kenyataannya, perjanjian-perjanjian perdagangan yang didukung oleh penganut perdagangan bebas ini justru sebenarnya menciptakan hambatan baru kepada terciptanya pasar bebas. Perjanjian-perjanjian tersebut sering dikritik karena melindungi kepentingan perusahaan-perusahaan besar.
Dari kondisi tersebut lah, sangat memungkinkan terciptanya persaingan tidak sehat, dimana pihak-pihak yang teruntungkan oleh regulasi yang ada saja yang mampu bertahan di kancah pasar lokal, maupun internasional.Saat pasar bebas sudah benar-benar berlaku sesuai dengan segala peraturan yang telah disepakati, maka akan sangat sulit bagi para produsen kelas menengah ke bawah untuk masuk daftar persaingan. Walaupun produk lokal nantinya mempunyai kualitas yang tinggi seperti produk import, namun mereka belum tentu mampu saingi harga yang dibanderol oleh produsen asing. Seperti halnya China, sangat menguasai pasaran produk dengan harga rendah, dan itu sangat diminati banyak konsumen dunia.
Dalam dunia komputer, keadaan ini bisa sangat menguntungkan. Perkembangan teknologi yang ada, tak lagi terhambat masuk ke dalam negeri karena proses cukai dan lainnya. Sehingga makin beragam pula teknologi serba canggih ada di pasar lokal. Di satu sisi, ini adalah poin penting untuk bisa mensejajarkan masyarakat indonesia di mata dunia dalam hal teknologi. Pada sisi yang lain, ini membuka lebar kesempatan para sarjana yang berbasis ilmu komputer untuk tampil sebagai pekerja dengan pendapatan yang tidak sedikit. Hal itu terjadi karena tiap teknologi yang ada dipastikan membutuhkan orang yang mampu melakukan maintenance, perawatan, atau servis terhadap teknologi itu.Teknologi yang diperuntukkan masyarakat umum, atau pun untuk skala yang lebih besar,seperti perusahaan atau bank, akan membutuhkan orang yang dikhususkan berada dalam sektor pemakaian,perawatan,ataupun servis.
Saat ini ramai di pasaran telepon pintar yang berbasis android. Secara otomatis, konsumen akan membutuhkan 'montir' untuk tempat dia berkonsultasi atas apapun yang terjadi dengan telepon pintarnya.Kondisi ini menyebabkan pihak vendor dari gadget tersebut harus menyediakan tenaga ahli di bidang android. Dari sini lah muncul peluang pekerjaan bagi para sarjana komputer.
Melihat perkembangan teknologi yang sangat pesat,pasar bebas yang mulai diterapkan, menyebabkan disiplin ilmu komputer makin menunjukan keterbutuhannya di segala lini kehidupan dan membuat ilmu komputer semakin menarik untuk dipilih sebagai jurusan kuliah oleh para lulusan SMA sekarang ini,seperti halnya jurusan kedokteran. Maka tak heran kalau saja gelar sarjana komputer lebih mudah ditemui di dewasa ini.
Dari hal baik dari dampak pasar bebas untuk para sarjana komputer,penulis juga menemukan kemungkinan dampak buruk yang akan diterimanya. Para Sarjana komputer dalam negeri akan sangat dituntut untuk turut serta dalam persaingan internasional dengan menghadirkan inovasi. Selama ini, para ahli komputer lokal lebih banyak yang hanya mampu memodifikasi teknologi komputer yang ada ketimbang menciptakan yang baru. Itu lah salah satu tantangan para sarjana komputer kedepan.Di lain hal, kuliah yang diterima para sarjana komputer selama mereka berstatus mahasiswa belum tentu sesuai dengan perkembangan teknologi komputer yang ada. Entah itu kuliah tentang hardware ataupun software yang sangat mungkin terlampau kuno jika dibandingkan dengan yang ada disaat ini. Jika pihak kampus masih bertahan dengan kurikulum yang ada, maka ini jadi kewajiban yang akan dipikul sendiri oleh mahasiswa untuk mampu ikuti perkembangan yang ada walaupun itu tidak didapatkan,dikenalkan oleh perkuliahan.

sumber:http://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan_bebas

Perbedaan Karangan Ilmiah, non Ilmiah dan Semi Ilmiah

Karangan merupakan karya tulis hasil dari kegiatan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikanya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami.
karangan ilmiah
“ suatu karangan atau tulisan yang diperoleh sesuai dengan sifat keilmuanya dan didasari oleh hasil pengamatan, peninjuan, penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isinya dapat dipertanggungjawabkan kebenaranya atau keilmiahannya” Eko, Susililo, M.( 1995 : 11)
Tujuan karangan ilmiah, antara lain: memberi penjelasan, memberi komentar atau penilaian, memberi saran, menyampaikan sanggahan, serta membuktikan hipotesa.


Jenis karangan ilmiah, diantaranya makalah, skripsi, tesis, disertasi dan laporan penelitian. Kalaupun jenisnya berbeda-beda, tetapi keempat-empatnya bertolak dari laporan, kemudian diberi komentar dan saran. Perbedaannya hanya terletak pada kekompleksannya.
Karangan ilmiah mempunyai beberapa ciri, antara lain:

1.Kejelasan.
Artinya semua yang dikemukakan tidak samar-samar, pengungkapan maksudnya tepat dan jernih.
2.Kelogisan.
Artinya keterangan yang dikemukakan masuk akal.
3.Kelugasan.
Artinya pembicaraan langsung pada hal yang pokok.
4.Keobjektifan
Artinya semua keterangan benar-benar aktual, apa adanya.
5.Keseksamaan
Artinya berusaha untuk menghindari diri dari kesalahan atau kehilafan betapapun kecilnya.
6.Kesistematisan
Artinya semua yang dikemukakan disusun menurut urutan yang memperlihatkan kesinambungan.
7.Ketuntasan.
Artinya segi masalah dikupas secara mendalam dan selengkap-lengkapnya.

Karangan non ilmiah

Non Ilmiah (Fiksi) adalah Satu ciri yang pasti ada dalam tulisan fiksi adalah isinya yang berupa kisah rekaan. Kisah rekaan itu dalam praktik penulisannya juga tidak boleh dibuat sembarangan, unsur-unsur seperti penokohan, plot, konflik, klimaks, setting dsb.

Karangan semi ilmiah

Semi Ilmiah adalah sebuah penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam satu tulisan dan penulisannyapun tidak semiformal tetapi tidak sepenuhnya mengikuti metode ilmiah yang sintesis-analitis karena sering di masukkan karangan non-ilmiah. Maksud dari karangan non-ilmiah tersebut ialah karena jenis Semi Ilmiah memang masih banyak digunakan misal dalam komik, anekdot, dongeng, hikayat, novel, roman dan cerpen.


Sumber : it-kosongsatu.com/download/Bahasa%20kel%205.doc
http://amatirs.blogspot.com/2010/04/perbedaan-karangan-non-ilmiah-semi.html

http://lailisulumiyah.blogspot.com/2011/02/perbedaan-karangan-ilmiah-non-ilmiah.html

Rabu, 07 Maret 2012

Saya,siapa?

Menelisik pada judul tulisan ini,sudah dapat dipastikan saya akan memperkenalkan diri,menuliskan semua hal yang memang melekat pada diri,atau yang sudah tertanam sejak dini,baik itu bakat terpendam ataupun atau pengaruh lingkungan.mau tidak mau,setelah anda membaca tulisan ini anda akan mengetahui siapakah saya. 
Mari dimulai dengan mengenal saya dari nama saya.Jamaris adalah nama saya.tujuh huruf yang terasa singkat untuk mewakili sebuah penamaan.Jika ada yang melayangkan pertanyaan kepada saya tentang arti nama itu,saya pun sampai Anda membaca tulisan ini,masih belum pahami betul maksud yang ingin orang tua saya sampaikan pada nama itu.Jelasnya,yang saya tahu,nama itu merupakan nama dari suku minang.

Ya,Saya lahir dari sepasang suami istri yang sama-sama lahir di ranah minang.Lima hari setelah tulisan ini resmi diposting,adalah 21 tahun yang lalu Saya hadir dengan tangisan pertama dan merupakan anak pertama dari tiga bersaudara.Adik perempuan Saya sedang tempuh kuliah tahun pertama di IPB,dan Adik laki-laki Saya sedang hadapi tahun terakhirnya di Sekolah Dasar.
Saya masih akan membahas tentang nama.Masa kecil Saya diakrabkan dengan panggilan 'Aris'.Tidak mengherankan,karena itu merupakan unsur dari nama panjang Saya.Namun,memasuki masa sekolah dasar,Saya harus terima kenyataan,bahwasanya Saya harus mendengar orang-orang memanggil Saya dengan nama lengkap,JAMARIS.Hal itu terjadi karena teman sekelas juga ada yang bernama Aris.
Beranjak masa SMP,Saya lebih akrab dipanggil dengan nama JAMS.Itulah titik balik Saya,dimana Saya akan jarang sekali mendengar orang memanggil Saya dengan panggilan kecil Saya,kecuali keluarga dan tetangga di rumah saja.Pada dasarnya,Saya terkadang rindu dipanggil dengan nama itu.
Saya pernah mengalami tahap pra-sekolah di TK Al-Kahfi,Gudang Air,Jakarta Timur.Jujur,Saya rasa bisa di sana hanya karena bunda ikuti tetangganya yang juga mem-pra-sekolah-kan anaknya di sana.Setelah setahun disana,Saya menjalani masa sekolah dasar di SDN GEDONG 09 PAGI.Sejak kelas satu hingga kelas enam,Alhamdulillah Saya selalu dalam 10 pertama peringkat nilai di kelas.Dalam ingatan Saya,pernah sekali mendapat hadiah berupa potongan pembayaran untuk kegiatan sinawisata (study tour) yang kala itu berkesempatan mengunjungi sea world,Ancol.
Enam tahun Saya habiskan di SD itu,Saya kemudian melanjutkan Sekolah Saya di SMPN 103 JAKARTA.Saat kelas dua SMP,saat terdengar kabar bahwa setiap siswa diwajibkan untuk mengikuti satu kegiatan ekstra kurikuler,maka Saya akhirnya memilih untuk masuk ekskul ROHIS (Rohani Islam).Sebelum di Rohis,Saya pernah mengikuti ekskul basket,juga marching band,tetapi hanya semangat pada awal pertemuan saja.
Jelang masa regenerasi kepengurusan Rohis,ternyata Saya masuk salah satu kandidat ketua Rohis untuk satu tahun berikutnya.Alhasil,Saya terpilih menjadi Sang Ketua.Cukup berat Saya jalani amanah tersebut,karena di Organisasi ini,Saya dan teman-teman benar-benar dicetak untuk jadi kader yang bisa bermanfaat bagi orang banyak.
Saya mengakhiri masa SMP dengan baik,setidaknya menurut Saya sendiri.Pertama karena Saya berhasil menjadi peringkat pertama di kelas.Namun,akan beda hasilnya jika raport Saya dibandingkan dengan kelas lain yang mungkin jauh lebih baik dari yang Saya raih.Dan yang kedua adalah Saya berhasil masuk SMA yang Saya inginkan,yakni SMAN 39 JAKARTA.Setelah masa indah Saya lalui di sana,akhirnya sampailah Saya pada Universitas Gunadarma.
Dalam pemilihan tempat kuliah,Saya tidak sama sekali mencoba peruntungan Saya di ujian masuk universitas di luar Jakarta.Hal itu dikarenakan Saya yang diharapkan bisa bantu Ayah di pasar.Ayah Saya bekerja sebagai pedagang kategori grosir di Pasar Induk Kramat Jati.Sebagai Anak pertama,ditambah lagi Saya adalah Anak laki-laki,Saya sangat diproyeksikan untuk bisa kelak menggantikan posisi Ayah disana,tetapi sama sekali mereka tidak memaksakan kehendak mereka untuk itu.


bersambung...

Sabtu, 12 November 2011

Bahasa Indonesia #2

Langkah-langkah membuat outline
1.  Tentukan tema apa yang akan Anda tulis.
2.  Undang kehadiran ide dengan membuka pikiran Anda terhadap semua ide yang  datang. Jangan pernah membatasi diri dengan aliran ide dari kecerdasan semesta.
3.   Segera tulis ide-ide tersebut ke atas kertas, sekenanya. Jangan dikritisi. Biarkan ide-ide itu hadir dan mengalir begitu saja. Tugas Anda hanya menuliskannya.
4.   Setelah cukup banyak ide yang berhasil Anda petik, periksalah cacatan Anda tadi. Amati dan seleksilah ide-ide itu satu demi satu. Yang relevan dengan tema yang Anda kehendaki, pakailah. Sebaliknya, kalau tidak berkaitan atau amat sedikit kaitannya, coret saja.
5.   Susunlah sederetan ide yang Anda pilih itu secara sistematis. Mungkin dari yang umum ke yang khusus atau disusun secara kronologis. Perhatikan betul sistematisasi ide yang Anda susun itu. Pastikan tidak ada gagasan yang melompat-lompat. Buatlah susunan ide itu mengalir, kompak, dan sealur dari ide pertama, kedua, ketiga, dan selanjutnya sampai gagasan yang terakhir.
6.   Kembangkan setiap ide utama dengan kalimat-kalimat penjelas/pelengkap. Satu ide utama bisa dikembangkan menjadi satu paragraf. Kalau Anda mempunyai 10 ide utama, maka minimal Anda sudah mendapatkan 10 paragraf. Ini sudah cukup untuk sebuah artikel.

Macam-macam outline
Macam – macam kerangka karangan tergantung dari dua parameter yaitu : berdasarkan sifat perinciannya, dan kedua berdasarkan perumusan teksnya.
Berdasarkan Perincian
Berdasarkan perincian yang di lakukan pada suatu kerangka karangan, maka dapat di bedakan kerangka karangan sementara ( informal ) dan kerangka karangan formal.
Kerangka Karangan Sementara
Kerangka karangan sementara atau informal merupakan suatu alat bantu, sebuah penuntun bagi suatu tulisan yang terarah. Sekaligus ia menjadi dasar untuk penelitian kembali guna mengadakan perombakan – perombakan yang di anggap perlu. Karena kerangka karangan ini hanya bersifat sementara, maka tidak perlu di susun secara terperinci. Tetapi, karena ia juga merupakan sebuah kerangka karangan, maka ia harus memungkinkan pengarangnya menggarap persoalannya secara dinamis, sehingga perhatian harus di curahkan sepenuhnya pada penyusunan kalimat – kalimat, alinea – alinea atau bagian – bagian tanpa mempersoalkan lagi bagaimana susunan karangannya, atau bagaimana susunan bagian – bagiannya.
Kerangka karangan informal ( sementara ) biasanya hanya terdiri dari tesis dan pokok – pokok utama, paling tinggi dua tingkat perincian. Alasan untuk menggarap sebuah kerangka karangan semntara dapat berupa topik yang tidak kompleks, atau karena penulis segera menggarap karangan itu.
Kerangka Karangan Formal
Kerangka karangan yang bersifat formal biasanya timbul dari pertimbangan bahwa topik yang akan di garap bersifat sangat kompleks, atau suatu topik yang sederhana tetapi penulis tidak bermaksud untuk segera menggarapnya.
Proses perencanaan sebuah kerangka formal mengikuti prosedur yang sama seperti kerangka informal. Tesisnya di rumuskan dengan cermat dan tepat, kemudian di pecah – pecah menjadi bagian – bagian bawahan ( sub – ordinasi ) yang di kembangkan untuk menjelaskan gagasan sentralnya. Tiap sub – bagian dapat di perinci lebih lanjut menjadi bagian – bagian yang lebih kecil. Sejauh di perlukan untuk menguraikan persoalan itu sejelas – jelasnya. Dengan perincian yang sekian banyak, sebuah kerangka karangan dapat mencapai lima atau tiga tingkat perincian sudah dapat di sebut kerangka formal.

Cara membatasi sebuah topik dapat dilakukan dengan mempergunakan cara sebagai berikut:
1.Tetapkanlah topik yang akan digarap dalam kedudukan sentral.
2.Mengajukan pertanyaan, apakah topik yang berada dalam kedudukan sentral itu masih dapat dirinci lebih lanjut? Bila dapat, tempatkanlah rincian itu sekitar lingkaran topik pertama tadi.
3.Tetapkanlah dari rincian tadi mana yang akan dipilih.
4.Mengajukan pertanyaan apakah sektor tadi masih dapat dirinci lebih lanjut atau tidak.
Dengan demikian dilakukan secara berulang sampai diperoleh sebuah topik yang sangat khusus dan cukup sempit.

Unsur alinea
1. Alinea yang Memiliki Empat Unsur
Susunan alinea jenis ini terdiri atas :
a. Tarnsisi (berupa kata,kelompok kata,atau kalimat);
b. Kalimat topik;
c. Kalimat pengembang;
d. Kalimat penegas.
2. Alinea yang Memiliki Tiga Unsur
Alinea jenis ini terdiri atas :
a. Transisi (berupa kata,kelompok kata,atau kalimat);
b. Kalimat topik;
c. Kalimaat pengembang.
3. Alinea yang Memiliki Dua Unsur
Alinea jenis ini terdiri atas :
a. Kalimat topik;
b. Kalimat pengembang.

Ciri-ciri pembuatan kalimat utama:
Kalimat yang dibuat harus mengandung permasalahan yang dapat diperinci.
Contoh: Rara Andhari adalah istri yang soleha,
kalimat ini dapat dijelaskan lebih lanjut apa saja yang membuktikan bahwa Rara Andhari adalah seorang istri yang soleha dapat dibuat lengkap dan berdiri sendiri tanpa memerlukan kata penghubung.
Ciri-ciri kalimat penjelas yaitu berisi penjelasan berupa rincian, keterangan, contoh, dll..
Kalimat penjelas berarti apabila dihubungkan dengan kalimat-kalimat di dalam paragraf, lalu kalimat penjelas sering memerlukan kalimat penghubung. Kelengkapan paragraf berhubungan dengan cara mengembangkan paragraf.


Macam-macam alinea

1. Alinea Pembuka
Alinea pembuka merupakan bagian dari sebuah wacana atau karangan yang paling pertama kita temui. oleh karena situ, sebaiknya alinea pembuka itu disusun secara menarik agar memunculkan rasa ingin tahu kepada para pembaca. Dalam alinea pembuka sangat diharapkan dapat membimbing para pembaca untuk memasuki suatu jalan cerita atau isi dari wacana atau dengan kata lain alinea pembuka ini menyiapkan para pembaca untuk memasuki alinea isi. Rumusan alinea pembuka yang baik akan menjadi pedoman untuk pengembangan karangan menuju tingkat selanjutnya. Dengan pedoman itu maka akan tercapainya suatu kepaduan pada dalam sebuah wacana atau karangan.

2. Alinea Isi
Alinea isi merupakan suatu ide pokok beserta pengembangannya dalam sebuah wacana atau karangan. Oleh karena itu, alinea isi merupakan bagian yang esensial dalam suatu wacana atau karangan. Maksudnya adalah alinea isi menjelaskan dengan cara menguraikan bagian-bagian ide pokok tersebut. Dalam menjelaskannya harus disusun dengan berurutan dan sesuai dengan asas-asas penalaran yang masuk akal atau logis.

3. Alinea Penutup
Alinea penutup merupakan alinea-alinea yang mengakhiri atau menutup suatu wacana atau karangan. Alinea ini merupakan kebulatan dari masalah-masalah yang dikemukakan pada bagian wacana atau karanan sebelumnya. Selain itu alinea penutup juga harus mengandung kesimpulan yang benar-benar mengakhiri uraian wacana atau karangan tersebut. Karena bertugas untuk mengakhiri suatu wacana, maka alinea penutup yang baik ialah yang tidak terlalu panjang, tetapi juga tidak terlalu pendek. Akan tetapi, alinea penutup harus menimbulkan kesan tersendiri bagi para pembaca.

Untuk menciptakan sebuah wacana atau karangan yang baik diperlukan ketiga aspek tersebut agar para pembaca dapat membaca dan mengerti arti dari wacana atau karangan yang kita buat. Selain itu kita harus membaca terlebih dahulu wacana atau karangan yang kita buat agar kita tahu dimana letak kesalahan kita supaya kita dapat memperbaiki tau merevisi karangan kita sebelum dibaca oleh banyak orang.

Bahasa Indonesia #1

1. Apa yang menyebabkan Ragam Bahasa?
Ragam bahasa adalah variasi bahasa yang pemakaiannya berbeda-beda 
menurut topik yang dibicarakan menurut hubungan pembicara, kawan bicara, 
dan orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicaraan.

Penyebab-penyebab adanya ragam bahasa disebabkan beberapa hal yaitu :
Perbedaan wilayah
Setiap daerah mempunyai perbedaan kultur atau daerah hidup yang berbeda 
seperti wilayah Jawa dan Papua dan beberapa wilayah Indonesia lainnya.

Perbedaan demografi
Setiap daerah memiliki dataran yang berbeda seperti wilayah di daerah pantai, 
pegunungan yang biasanya cenderung mengunakan bahasa yang singkat jelas dan 
dengan intonasi volume suara yang besar. Berbeda dengan pada pemukiman padat 
penduduk yang menggunakan bahasa lisan yang panjang lebar dikarenakan lokasinya 
yang saling berdekatan dengan intonasi volume suara yang kecil.

Perbedaan adat istiadat
Setiap daerah mempunyai kebiasaan dan bahasa nenek moyang senderi sendiri dan 
berbeda beda.

2. Jelaskan perbedaan istilah umum dan khusus dalam penggunaan wacana?
Istilah umum adalah istilah yang berasal dari bidang tertentu, yang karena 
dipakai secara luas, menjadi unsur kosakata umum.
Misalnya:
• Anggaran belanja
• Daya
• Nikah
• Penilaian
• Radio
• Takwa
Istilah khusus adalah istilah yang maknanya terbatas pada bidang tertentu saja.
Misalnya:
• Apendektomi
• Bipatride
• Kurtosis
• Pleistosen

3. Jelaskan pola kalimat dasar bahasa Indonesia?
Pola kalimat dasar
Pola kalimat dasar bahasa Indonesia adalah pola kalimat yang hanya terdiri atas 
satu klausa dimana di dalam kalimat dasar tersebut hanya ada satu subjek dan satu
predikat, di samping itu terdapat juga objek dan pelengkap serta keterangan.
Dari pengertian diatas dapat dikatakan bahwa kalimat dasar memiliki satu struktur 
kalusa dengan pola SP, SPK, SPO, SP Pel, SPO Pel, dan SPOK.

Unsur kalimat
Subyek (S)
• Disebut juga pokok kalimat, karena merupakan unsur inti suatu kalimat.
• Umumnya berupa kata benda (KB) atau kata lain yang dibendakan.
• Merupakan jawaban dari pertanyaan “Siapa” atau “Apa”.

Predikat (P)
• Unsur inti pada kalimat yang berfungsi menjelaskan subyek.
• Biasanya berupa kata kerja (KK) atau kata sifat (KS).
• Merupakan jawaban dari pertanyaan “Mengapa” dan “Bagaimana”.
Objek (O)
• Keterangan predikat yang memiliki hubungan erat dengan predikat.
• Biasanya terletak di belakang predikat.
• Dalam kalimat pasif, objek akan menempati posisi subyek.

4. Jelaskan syarat -syarat kalimat efektif?

Kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali
gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada dalam 
pikiran
pembicara atau penulis. Kalimat sangat mengutamakan keefektifan informasi itu 
sehingga kejelasan kalimat itu dapat terjamin.

Kriteria kalimat efektif :
a. Menggunakan kesepadanan antara struktur bahasa dan jalan pikiran yang logis 
dan sistematis.
b. Menggunakan kesejajaran bentuk bahasa yang dipakai.
Syarat pertama bagi kalimat efektif mempunyai struktur yang baik. 
Artinya kalimat itu harus memiliki unsur-unsur subjek dan predikat,
atau bisa di tambahkan dengan objek, keterangan dan unsur-unsur subjek,
predikat,objek, keterangan, dan pelengkap melahirkan keterpaduan arti yang
merupakan ciri keutuhan kalimat.
• Subjek adalah unsur yang melakukan suatu tindakan atau kerja dalam suatu kalimat.
• Predikat adalah sebagai unsur kata kerja.
• Objek adalah Unsur yang dikenai kerja oleh subyek.
• Keterangan dapat berupa keterangan waktu ataupun tempat selama kejadian.
• Pelengkap adalah unsur yang melengkapi kalimat yang tak berobyek.
Syarat-syarat kalimat efektif: (memiliki)
1. Kesepadanan dan Kesatuan
Untuk dapat mencapai kesepadanan dan kesatuan dalam kalimat efektif, 
perlu di perhatikan beberapa hal karena kesepadanan ini memiliki ciri.
• Memiliki fungsi Subjek dan predikat
• Kata penghubung intrakalimat dan antarkalimat
• Gagasan pokok
• Penggabungan dengan menggunakan “yang”, “dan”
• Penggabungan Menyatakan “sebab”, “waktu”
• Penggabungan kalimat yang menyatakan hubungan akibat dan tujuan
2. Kesejajaran : penggunaan bentuk-bentuk bahasa yang sama atau konstruksi 
bahasa yang sama yang dipakai dalam susunan serial.
3. Penekanan dalam kalimat
Seorang pembicara biasanya akan memberikan penekanan pada bagian kalimat 
dengan memperlambat ucapan, meninggikan suara dan sebagainya pada bagian kalimat tadi.
4. Kehematan
Kehematan dalam kalimat efektif merupakan kehematan dalam pemakaian kata, 
frase atau bentuk lainnya yang di anggap tidak diperlukan. Kehematan itu menyangkup gramatikal dan makna kata.
5. Kevariasian
Dalam menulis sebuah tulisan, kevariasian sangatlah penting. Hal tersebut 
dikarenakan, apa ila tulisannya panjang, pembacanya akan merasa bosan. 
Oleh karena itu kevariasian sangatlah penting, agar sang pembaca tidak merasa 
jenuh saat membaca tulisan sang penulis.

Minggu, 15 Mei 2011

Pengembangan Organisasi Birokrasi


ARTI BIROKRASI :Government By Bureusà yaitu pemerintahan biro oleh aparat yang diangkat oleh pemegang Kekuasaan baik dalam organisasi formal publik maupun privat ( Rigss ) Birokrasi sebagai tipe ideal organisasi à konsep organisasi rasionalistik melalui aktivitas kolektif dari weber Birokrasi sebagai sifat pemerintahan yang kaku, bertele-tele tuduhan yang negatif terhadap instansi yang berkuasa à Biropatologi Birokrasi Indonesia Buruknya birokrasi tetap menjadi salah satu problem terbesar yang dihadapi Asia. 
Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang berbasis di Hongkong meneliti pendapat para eksekutif bisnis asing (expatriats), hasilnya birokrasi Indonesia dinilai termasuk terburuk dan belum mengalami perbaikan berarti dibandingkan keadaan di tahun 1999,meskipun lebih baik dibanding keadaan Cina, Vietnam dan India. Birokrasi Indonesia Di tahun 2000, Indonesia memperoleh skor 8,0 atau tak bergerak dari skor 1999, dari kisaran skor yang dimungkinkan,
yakni nol untuk terbaik dan 10 untuk terburuk. Skor 8,0 atau jauh di bawah rata-rata ini diperoleh berdasarkan pengalaman dan persepsi expatriats yang menjadi responden bahwa antara lain menurut mereka masih banyak pejabat tinggi pemerintah Indonesia yang memanfaatkan posisi mereka untuk memperkaya diri sendiri dan orang terdekat. 
Birokrasi Indonesia Para eksekutif bisnis yang disurvei PERC juga berpendapat, sebagian besar negara di kawasan Asia masih perlu menekan hambatan birokrasi (red tape barriers). Mereka juga mencatat beberapa kemajuan, terutama dengan tekanan terhadap birokrasi untuk melakukan reformasi. Birokrasi Indonesia Reformasi menurut temuan PERC terjadi di beberapa negara Asia seperti Thailand dan Korea Selatan. Peringkat Thailand dan Korea Selatan tahun 2000 membaik, meskipun di bawah rata-rata, yakni masinng-masing 6,5 dan 7,5 dari tahun lalu yang 8,14 dan 8,7. Tahun lalu (1999), hasil penelitian PERC menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat korupsi tertinggi dan sarat kroniisme dengan skor 9,91 untuk korupsi dan 9,09 untuk kroniisme dengan skala penilaian yang sama antara nol yang terbaik hingga sepuluh yang terburuk. Penyakit Birokrasi Menurut Blau dan Meyer: Kecenderungan birokrasi dan birokratisasi pada masyarakat modern benar-benar dipandang memprihatinkan, sehingga digambarkan adanya ramalan mengenai makin menggejalanya dan berkembangnya praktek-praktek birokrasi yang paling rasionalpun, tidak bisa lagi dianggap sebagai kabar menggembirakan, melainkan justru merupakan pertanda malapetaka dan bencana baru yang menakutkan Gejala-gejala penyakit Birokrasi Siagian (1994), misalnya, mengakui adanya patologi birokrasi.
 Hal itu dicirikan oleh kecenderungan patologi karena persepsi, perilaku dan gaya manajerial, masalah pengetahuan dan ketrampilan, tindakan melanggar hukum, keperilakuan, dan adanya situasi internal. Kartasasmita (1995) menyebutkan, bahwa birokrasi memiliki kecenderungan mengutamakan kepentingan sendiri (self serving), mempertahankan statusquo dan resisten terhadap perubahan, dan memusatkan kekuasaan. Islamy (1998:8), birokrasi di kebanyakan negara berkembang termasuk Indonesia cenderung bersifat patrimonialistik : tidak efesien, tidak efektif (over consuming and under producing), tidak obyektif, menjadi pemarah ketika berhadapan dengan kontrol dan kritik, tidak mengabdi kepada kepentingan umum, tidak lagi menjadi alat rakyat tetapi telah menjadi instrumen penguasa dan sering tampil sebagai penguasa yang sangat otoritatif dan represif. Hasil penelitian Santoso, 1993; Thaba, 1996; Fatah, 1998), bahwa birokrasi di Indonesia ada kecenderungan berkembang kearah “parkinsonian”, dimana terjadinya proses pertumbuhan jumlah personil dan pemekaran struktur dalam birokrasi secara tidak terkendali. Pemekaran yang terjadi bukan karena tuntutan fungsi, tetapi semata-mata untuk memenuhi tuntutan struktur.Disamping itu terjadinya birokrasi “orwellian” yakni proses pertumbuhan kekuasaan birokrasi atas masyarakat, sehingga kehidupan masyarakat menjadi dikendalikan oleh birokrasi. 

Akibatnya, birokrasi Indonesia semakin membesar (big bureaucracy) dan cenderung tidak efektif dan tidak efesien. Pada kondisi yang demikian, sangat sulit diharapkan birokrasi siap dan mampu melaksanakan kewenangan-kewenangan barunya secara optimal. Gejala demikian menunjukkan bahwa birokrasi dan birokratisasi tidak pernah tampil dalam bentuk idealnya. Alasannya, nampak dalam praktek kerjanya antara lain: Pertama, manusia birokrasi tidak selalu berada (exist) hanya untuk organisasi. Kedua, birokrasi sendiri tidak kebal terhadap perubahan sosial. Ketiga,birokrasi dirancang untuk semua orang. Keempat, dalam kehidupan keseharian manusia birokrasi berbeda-beda dalam kecerdasan, kekuatan, pengabdian dan sebagainya, sehingga mereka tidak dapat saling dipertukarkan untuk peran dan fungsinya dalam kinerja organisasi birokrasi. Islamy (1998:7) menyebutkan keadaan birokrasi publik dengan istilah organizational slack yang ditandai dengan menurunnya kualitas pelayanan yang diberikannya Karalteristik organizational slack adalah orientasi pelayanan yang kaku, visi pelayanan yang sempit, penguasaan terhadap administrative engineering yang tidak memadai, dan semakin bertambah gemuknya unit-unit birokrasi publik yang tidak difasilitasi dengan 3P (personalia, peralatan dan penganggaran) yang cukup dan handal (viable bureaucratic infrastructure).
 Dampaknya Akibatnya, aparat birokrasi publik menjadi lamban dan sering terjebak ke dalam kegiatan rutin, tidak responsif terhadap aspirasi dan kepentingan publik serta lemah beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi di lingkungannya. Sebagai konsekuensinya, perlu dipertanyakan mengenai posisi aparat pelayanan ketika berhadapan dengan masyarakat atau kliennya Apakah birokrasi publik itu alat rakyat? Alat penguasa? Ataukah penguasa itu sendiri? Pengembangan Birokrasi Guna merespon kesan buruk birokrasi seperti itu : Melakukan perubahan lingkungan kerja, salah satunya masukan Gifford and Pinchot, Elizabeth, dalam The End of Bureaucracy and The Rise of The Intelligent Organization Melakukan beberapa perubahan sikap dan perilakunya (a) birokrasi harus lebih mengutamakan sifat pendekatan tugas yang diarahkan pada hal pengayoman dan pelayanan masyarakat; dan menghindarkan kesan pendekatan kekuasaan dan kewenangan; (b) birokrasi perlu melakukan penyempurnaan organisasi yang bercirikan organisasi modern, ramping, efektif dan efesien yang mampu membedakan antara tugas-tugas yang perlu ditangani dan yang tidak perlu ditangani (termasuk membagi tugas-tugas yang dapat diserahkan kepada masyarakat); (c)birokrasi harus mampu dan mau melakukan perubahan sistem dan prosedur kerjanya yang lebih berorientasi pada ciri-ciri organisasi modern yakni : pelayanan cepat, tepat, akurat, terbuka dengan tetap mempertahankan kualitas, efesiensi biaya dan ketepatan waktu; (d) birokrasi harus memposisikan diri sebagai fasilitator pelayan publik dari pada sebagai agen pembaharu pembangunan; (e) birokrasi harus mampu dan mau melakukan transformasi diri dari birokrasi yang kinerjanya kaku (rigid) menjadi organisasi birokrasi yang strukturnya lebih desentralistis, inovatif, fleksibel dan responsif. Berikut ini paradigma baru atau model yang ditawarkan untuk birokrasi Indonesia masa depan adalah : Perlu dibangun birokrasi berkultur dan struktur rasional-egaliter, bukan irasional-hirarkis.
  Caranya dengan pelatihan untuk menghargai penggunaan nalar sehat dan mengunakan hasil-hasil ilmu pengetahuan. Perlunya memiliki semangat pioner, bukan memelihara budaya minta petunjuk dari atasan. Perlu dibiasakan mencari cara-cara baru yang praktis untuk pelayanan publik, inisiatif, antisipatif dan proaktif, cerdas membaca keadaan kebutuhan publik, memandang semua orang sederajat di muka hukum, menghargai prinsip kesederajatan kemanusian, setiap orang yang berurusan diperlakukan dengan sama pentingnya. Birokrasi yang propartisipan-outonomus bukan komando-hirarkis. Birokrasi Indonesia ke depan perlu mendukung dan melakukan peran pemberdayaan dan memerdekakan masyarakat untuk berkarya dan berkreatifitas. Perlu dikurangi kadar pengawasan dan represi terhadap hak ekspresi masyarakat. Perlu ditinggalkan cara-cara penguasaan masyarakat lewat kooptasi kelembagaan dan dihindari sikap dominasi. Birokrasi bertindak profesional terhadap publik. Berperan menjadi pelayan masyarakat (public servent). 

Dalam memberikan pelayanan ada transparansi biaya dan tidak terjadi pungutan liar. PNS perleu memberikan informasi dan transparansi sebagai hak masyarakat dan bisa dimintai pertanggungjawabannya (public accountibility) lewat dengar pendapat (hearing) dengan legislatif atau kelompok kepentingan yang datang. Melakukan pemberdayaan publik dan mendukung terbangunnya proses demokratisasi. meningkatkan kualitas dan kuantitas dalam melayani publik secara kompetitif, bukan minta dilayani atau membebani masyarakat dengan pungutan liar, salah urus, dan ketidakpedulian. Birokrasi yang melakukan rekruitmen sumber daya manusianya melalui seleksi fit and proper test, bukan mengangkat staf atau pimpinan karena alasan kolusi dan nepotisme. Birokrasi yang memberikan reward merit system (memberikan penghargaan dan imbalan gaji sesuai pencapaian prestasi) bukan spoil system (hubungan kerja yang kolutif, diskriminatif dan kurang mendidik, pola reward dan punishment kurang berjalan). Birokrasi yang bersikap netralitas politik, tidak diskriminatif, tidak memanfaatkan fasilitas negara untuk kepentingan partai politik tertentu. 
Menurut Gifford and Pinchot, Elizabeth, The End of Bureaucracy and The Rise of The Intelligent Organization adalah : Birokrasi yang saling bersaing antar bagian dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas dalam melayani publik secara kompetitif, bukan minta dilayani atau membebani masyarakat dengan pungutan liar, salah urus, dan ketidakpedulian. Birokrasi yang melakukan rekruitmen sumber daya manusianya melalui seleksi fit and proper test, bukan mengangkat staf atau pimpinan karena alasan kolusi dan nepotisme. Birokrasi yang memberikan reward merit system (memberikan penghargaan dan imbalan gaji sesuai pencapaian prestasi) bukan spoil system (hubungan kerja yang kolutif, diskriminatif dan kurang mendidik, pola reward dan punishment kurang berjalan). Birokrasi yang bersikap netralitas politik, tidak diskriminatif, tidak memanfaatkan fasilitas negara untuk kepentingan partai politik tertentu.

sumber:http://dedek-mustafa-syahri.blog.friendster.com/2008/02/pengembangan-organisasi-birokrasi/

Jumat, 08 April 2011

Urgensi sebuah Regenerasi

keharusan yg mendesak; hal sangat penting. Dua hal tersebut adalah yang akan kita temui dalam Kamus Bahasa Indonesia jika ingin mengetahui makna daripada kata 'Urgensi'.Kata urgensi menjadi sangat penting sekali keberadaan dalam tulisan ini,karena penulis sangat ingin menyampaikan betapa penting dan mendesak pelaksanaan Regenerasi dalam tubuh sebuah Organisasi.
Regenerasi sendiri memiliki beberapa arti,yakni : (1) pembaruan semangat dan tata susila; (2) Bio penggantian alat yg rusak atau yg hilang dng pembentukan jaringan sel baru; (3) ki penggantian generasi tua kpd generasi muda; peremajaan.Pembaruan semangat adalah sangat tepat artinya,karena banyak Organisasi negeri ini yang membutuhkan Pembaruan Semangat.Dengan dilaksanakannya sebuah regenerasi,berarti memberi kesempatan kepada jiwa-jiwa baru dengan semangat menggebu untuk menjadi pengganti dan fokus memberi kontribusi.
Regenerasi juga sangat tepat pengertiannya untuk kalimat 'penggantian alat yg rusak atau yg hilang dng pembentukan jaringan sel baru'.Sangat tepat karena jika kita tengok pola organisasi di dalam negara ini,mudah ditemui kecacatan yang tak boleh dibiarkan berlarut-larut mengisi tubuh organisasi karena hanya akan memperberat setiap langkah yang dilakukan.
Contohnya saja ada satu divisi pengadaan alat musik dalam sebuah organisasi penyelenggara acara musik yang tidak produktif sama sekali.Ini jelas memperseyok jalannya organisasi tersebut.Acara musik yang seharusnya lancar,dari awal sampai akhir acara tapi harus gagal karena Alat musik yang tidak ada di panggung,padahal pengisi acara sudah siap.Maka dari itu,evaluasi yang dapat dilakukan adalah mencoba meregenerasi divisi tersebut dengan orang baru yang kompeten sehingga tidak terjadi lagi hal-hal itu.

Sekali lagi sangat tepat jika kamus bahasa indonesia mengartikan regenerasi sebagai 'penggantian generasi tua kepada generasi muda' atau peremajaan.Banyak ditemui organisasi di negeri ini,entah itu organisasi swasta atau pun pemerintah yang senang mengawetkan orang pada suatu jabatan di organisasi walaupun umurnya sudah tak lagi menghendaki.Ini jelas memperlamban proses belajar para generasi muda untuk bisa menyamai keberhasilan yang dilakukan oleh para generasi pendahulunya.Tradisi organisasi yang terlalu mengagungkan orang yang telah sukses membawa organisasi pada puncak kesuksesan tertinggi,sehingga rela menghentikan regenerasi adalah salah.Itu sudah sangat sering kita temui keadaan dimana negara-negara yang dikuasai oleh para diktator yang lahir karena sebuah tanggung jawab yang terlalu lama diembannya.Tanggung Jawab yang seharusnya segera dipindahkan ke pundak para pemuda harapan bangsa.
Ketika terlalu lamanya masa pengabdian,menjadi makin meningkat pula perasaan berkuasanya Ia hingga mendiktatorkan dirinya.Inilah yang sangat ditakutkan terjadi pada sebuah organisasi.Regenerasi adalah salah satu senjata ampuh yang mampu menyehatkan kembali organisasi.Jiwa dan pikiran baru dari orang yang baru akan seketika mematikan kemungkinan munculnya diktatoris.
Saat jiwa,raga,dan pikiran masih bertajuk muda adalah saat yang baik untuk menanamkan dibenak dan lubuk hati terdalam bahwa regenerasi adalah hal penting.Sehingga nanti,saat tua kita sedang menduduki posisi tertentu dalam sebuah organisasi,maka kita akan sangat berjiwa besar untuk meng-estapet-kan tongkat tanggung jawab yang sedang kita pegang.
Mungkin perlu digarisbawahi,bahwasanya tidak harus pengganti dari pemimpin yang tua adalah seorang muda.Karena para professional walaupun sudah tua,masih sangat mungkin untuk memberi udara segar.
Mari biasakan diri untuk terima terhadap hal-hal baru yang mungkin saja akan memberi pengaruh baik dan merupakan yang dinanti-nanti selama ini.

Determinan Struktur Organisasi

Manusia adalah makhluk sosial.Itu yang menyebabkan manusia butuh berinteraksi sosial,membutuhkan andil manusia lainnya untuk membantu mencapai sebuah tujuan hidup yang telah dicita-citakan.Pihak lain yang ikut andil dalam pencapaian cita-cita tersebut pun pasti juga telah mengikutsertakan kita dalam proses pencapaian cita-citanya.Hampir tepat jika fakta yang sering terjadi ini kita sebut sebagai simbiosis mutualisme.Hubungan antara dua pihak atau lebih yang saling menguntungkan.
Tak jarang pula kita dapati sekumpulan orang berkumpul,merembukkan pendapat masing-masing lalu merucutinya hingga menemukan hasil kesepakatan yang akan dijalankan dan dilaksanakan bersama-sama.Adalah bertujuan sama menjadi alasan mereka dapat berkumpul bersama mencari satu ide puncak yang akan menjadi langkah awal pencapaian tujuan yang sama-sama dicita-citakan oleh pihak yang ada didalamnya.Itulah bahasa yang ada dipikiran Saya tentang organisasi.Anda boleh setuju,boleh juga mendukung.
Organisasi,walaupun berisi sekumpulan orang yang memiliki tujuan yang sama,tetapi dalam hal kedudukan dalam organisasi harus ada hirarkinya.Harus ada struktur jelas demi membangun kekokohan organisasi untuk tetap melangkah demi raih cita-cita bersama.Organisasi akan sangat baik jika keberadaannya dipimpin oleh seorang yang paling layak dari sekian banyak orang yang ada.Itu berguna untuk menjadi pengatur kesatuan didalam organisasi.Walaupun organisasi berisi orang yang bertujuan sama,tapi terkadang ada konflik pikiran saat mengemukakan pendapat karena setiap individu pasti mempunyai sudut pandang berbeda dalam menanggapi masalah,dan disini lah peran pemimpin organisasi dibutuhkan.
Setelah pemimpin ditentukan,maka struktur organisasi dibutuhkan keberadaannya untuk menyokong fungsi pemimpin karena tidak mungkin seorang pemimpin sendirian melaksanakan organisasi tanpa ada sub-sub divisi dibawahnya yang membantu.Dari orang yang banyak tadi,maka pemimpin dalam rapat organisasi akan meramu struktur organisasi terbaik dengan menempatkan orang sesuai dengan kemampuannya.Untuk orang yang pandai dalam mengatur keuangan dapat ditempatkan pada posisi kebendaharaan.Untuk orang yang ahli dalam pelaporan dan sejenisnya maka bisa ditempatkan pada posisi sekretaris.
Ada beberapa hal yang mempengaruhi struktur organisasi yang disebut determinan.
Berikut ini adalah DETERMINAN PENYEBAB STRUKTUR DARI SEBUAH ORGANISASI :
1.STRATEGI
2.UKURAN ORGANISASI
3.TEKNOLOGI
4.LINGKUNGAN
5.PENGENDALIAN KEKUASAAN
dan berikut ini merupakan penjelasannya.






  1. Strategi adalah penentuan tujuan dasar jangka panjang dan sasaran sebuah organisasi serta penerimaan dari serangkaian tindakan maupun alokasi sumber-sumber yang dibutuhkan untuk melaksanankan pencapaian tujuan tersebut.

Strategi
Tujuan
Lingkungan
Karakter struktur
Defender
Stabilitas dan efisiensi
   Stabil
Kontrol ketat, formalisasi terpusat
Analizer
Stabilitas : efisiensi
   Perubahan
Kontrol kuat utk kegiatan yang ada
Prospektor
Flexible
   Dinamis
Strukur lepas, formalisasi rendah desentralisasi
  1. Ukuran organisasi sebagai faktor kedua penentu stuktur organisasi. Ukuran organisasi meyangkut besarnya organisasi yang dilihat dari jumlah anggota organisasi.Jumlah anggota atau ukuran organisasi akan berpengaruh pada kompleksitas organisasi baik horizontal maupun vertikal. Ukuran juga berpengaruh pada formalisasi dan sentralisasi. Semakin besar organisasi semakin tinggi formalisasi dan semakin besar ukuran organisasi semakin rendah sentralisasi.
  2. Teknologi sebagai penentu struktur yang ketiga. Teknologi merujuk pada informasi,peralatan, teknik, dan proses yang dibutuhkan untuk merubah masukan menjadi keluaran dalam organisasi. Namun ukuran teknologi ada beberapa macam misalnya sederhana, tepat guna dan canggih; rutin dan non rutin; maupun sederhana, kompleks dan sangat kompleks. Ada kecenderungan teknologi rutin mempunyai dampak pada tingkat formalisasi yang tinggi namun tingkat kompleksitasnya cenderung rendah, sementara itu tingkat sentralisasinya cenderung tinggi. Pada sisi lain teknologi non rutin menuntut spesialisasi yang banyak sehingga kompleksitasnya cenderung tinggi sementara itu tingkat controlnya membutuhkan keleluasaan dan fleksibiltas yang tinggi berarti formalisasinya cenderung rendah dan pembuatan keputusan memungkinkan pendelegasian yang berarti sentralisasi rendah.
  1. Lingkungan organisasi menunjuk semua faktor yang berada di luar organisasi dan yang berpengaruh ataupun dipengaruhi oleh organisasi.Menurut penelitian Burns & Stalker dalam lingkungan yang stabil struktur organisasi cenderung mengarah pada struktur mekanistik yang dicirikan oleh kompleksitas, formalisasi, dan sentralisasi yang tinggi. Pelaksanaan tugas rutin sangat menggantungkan pada perilaku yang diprogramkan,dan relatif lamban dlm menanggapi keadaan yang tidak dikenalnya. Demikian pula pada lingkungan yang bergejolak terjadi yang sebaliknya struktur organisasi mengarah pada struktur organis. Burns & Stalker yakin bahwa struktur yang efektif yang dapat menyesuaikan dengan lingkungannya. Menggunakan desain mekanistik untuk lingkungan yang stabil dan organis yang lingkungannya bergejolak.
  2. Pengendalian kekuasaan.Perspektip kontingensi menyatakan bahwa struktur berubah mencerminkan berubahnya pada strategi, ukuran, teknologi, dan lingkungan yang memunculkan assumsi implisit mengenai pengambilan keputusan dalam organisasi.Perspektip ini mengansumsikan adanya rasionalitas pengambil keputusan yang dominan sekalipun juga ada konsensus tujuan. Oleh karena itu faktor utama disamping keempat penentu struktur adalah pengendalian kekuasaan dari pengambil keputusan dalam penentuan struktur.



Kamis, 30 Desember 2010

Mempercayai Oposisi Sebagai Kawan Kerja

           Yap,semoga benar dugaan Saya bahwa akan ada pertanyaan dalam benak Anda setelah membaca judul tulisan di atas.Bagaimana bisa seorang Oposisi,yang tak lain dan bukan adalah orang yang pasti akan menentang segala hal ide pikiran yang muncul dari pemikiran kita malah dengan gampangnya judul di atas membalikkan keadaan yang mungkin saja akan sangat sulit diterima oleh khalayak umum bahwa Kita mampu bekerjasama dengan oposisi kita.Inilah poin awal yang bisa kita ambil dari judul tersebut,bahwa kita hidup di dunia butuh orang lain,bahkan orang yang pendapatnya sangat bertolak belakang dengan kita akan sesuatu hal yang sedang kita perjuangkan.Tapi akan aneh rasanya jikalau di awal-awal tulisan ini Saya sudah menggarisbawahi poin penting sedangkan masalahnya pun belum Saya munculkan sama sekali.Berikut ini akan Saya lampirkan sebuah kasus yang erat kaitannya dengan judul tulisan ini.
           Bank Seruni Indonesia adalah bank besar di Yogyakarta.Bank ini mempunyai empat cabang yang tersebar di empat kabupaten di DIY.Selama beberapa bulan manajemen telah dan sedang mempertimbangkan suatu perubahan prosedur-prosedur evaluasi latihan.Suatu perubahan yang akan mempengaruhi baik departemen personalia maupun para manajer cabang.Rencana tersebut telah didiskusikan dengan semua orang yang dikenai,dan sebagian dari mereka menentang perubahan itu.Penyelia latihan,Atika Nurhadi,adalah salah seorang penentang yang paling keras.
Setelah diskusi dengan para pengelola bank lainnya, wakil direktur bidang personalia , Ramona Dangdut, memutuskan untuk mengimplementasikan perubahan. Dia membentuk dan menyeleksi para anggota satuan tugas khusus untuk mengimplementasikan perubahan dan memilih Atika sebagai kepala satuan kerja tersebut. Ketika Ramona meminta kesediaan Atika, dia menerina jabatan itu, dan kemudian berkata : “ Bapak tahu bahwa saya menentang perubahan ini. Mengapa Bapak memilih saya sebagai pimpinan? “.Ramona menimpali : “ Ya, saya mengetahui ketidaksetujuan saudara. Kami memilih saudari karena kami menganggap bahwa bila ada berbagai kekurangan dalam usulan perubahan, saudari akan menemukannya. Dan kami percaya saudari dapat membetulkannya. “.

           Timbullah suatu pertanyaan besar tentang alasan seorang manajer seperti Ramona memilih pemimpin oposisi untuk mengimplementasikan perubahan.Dari sudut pandang Saya,Ramona ingin perubahan yang dia rencanakan itu bisa teraplikasi ke semua lini di Bank Seruni Indonesia.Mengingat ada sebagian dari orang-orang yang ikuti mendiskusikan perubahan prosedur itu menolak rencana tersebut.Tidak baik rasanya hanya menjalankan suatu perubahan prosedur di sebuah perusahaan,hanya di cabang yang menyetujuinya.Tapi Ramona sepertinya tak ingin tanggung dalam mengambil keputusan,Beliau langsung menunjuk seorang yang paling keras menolak dan menentang rencana itu sebagai pemimpin Satgas Khusus untuk mengimplementasikan perubahan.Keputusan itu dikarenakan keinginan Ramona agar perubahan itu berjalan sempurna,yaitu dengan penentang perubahan itu sebagai pemimpin.Sebagaimana pada umumnya,seorang oposisi pasti akan terus mengamati tindak tanduk 'lawannya',dan terus mencoba mencari celah kesalahan yang diperbuatnya.Begitu pun dengan Atika,oposisi daripada rencana Ramona.Secara otomatis,dengan kewenangan yang diberikan Ramona kepada Atika sebagai pimpinan SatGas,Atika berhak langsung mengevaluasi sesuatu yang dirasanya ganjal dalam proses berjalannya implementasi perubahan tersebut.Namun Saya kurang sependapat dengan tindakan Ramona,karena dikhawatirkan Atika akan bertindak sesuatu hal yang tidak sesuai dengan maksud daripada Ramona sebagai penggagas.Lebih baik Atika tetap dimasukkan kedalam strukstur Satuan Tugas itu,tapi posisinya dibawah pimpinan.Dengan begitu,Atika tetap bisa memantau langsung prosesnya.
          Perkiraan Saya,kesuksesan Ramona dalam pelaksanaan perubahan tidak akan seratus persen.Hal itu karena Saya berprinsip,jikalau ingin baik mengerjakan sesuatu yang diinginkan terjadi,maka lakukan sendiri.Maksudnya,biarlah Ramona menjadi pemimpin dari gagasannya sendiri.
         Mungkin kasus sejenis di atas bisa terjadi pada ke kehidupan Anda,maka tidak ada salahnya untuk menjadikan tulisan ini sebagai sedikit referensi untuk mengatasi kasus tersebut.

Kamis, 11 November 2010

Teori Komunikasi Massa

Komunikasi Massa (Mass Communication) adalah komunikasi yang menggunakan media massa, baik cetak (Surat Kabar, Majalah) atau elektronik (radio, televisi) yang dikelola oleh suatu lembaga atau orang yang dilembagakan, yang ditujukan kepada sejumlah besar orang yang tersebar dibanyak tempat.

1. Teori Pengaruh Tradisi (The Effect Tradition)
Teori pengaruh komunikasi massa dalam perkembangannya telah mengalami perubahan yang kelihatan berliku-liku dalam abad ini. Dari awalnya, para peneliti percaya pada teori pengaruh komunikasi “peluru ajaib” (bullet theory) Individu-individu dipercaya sebagai dipengaruhi langsung dan secara besar oleh pesan media, karena media dianggap berkuasa dalam membentuk opini publik. Menurut model ini, jika Anda melihat iklan Close Up maka setelah menonton iklan Close Up maka Anda seharusnya mencoba Close Up saat menggosok gigi.
Kemudian pada tahun 50-an, ketika aliran hipotesis dua langkah (two step flow) menjadi populer, media pengaruh dianggap sebagai sesuatu yang memiliki pengaruh yang minimal. Misalnya iklan Close Up dipercaya tidak akan secara langsung mempengaruhi banyak orang-orang untuk mencobanya. Kemudian dalam 1960-an, berkembang wacana baru yang mendukung minimalnya pengaruh media massa, yaitu bahwa pengaruh media massa juga ditengahi oleh variabel lain. Suatu kekuatan dari iklan Close Up secara komersil atau tidak untuk mampu mempengaruhi khalayak agar mengkonsumsinya, tergantung pada variabel lain. Sehingga pada saat itu pengaruh media dianggap terbatas (limited-effects model).

Sekarang setelah riset di tahun 1970-an dan 1980-an, banyak ilmuwan komunikasi sudah kembali ke powerful-effects model, di mana media dianggap memiliki pengaruh yang kuat, terutama media televisi.Ahli komunikasi massa yang sangat mendukung keberadaan teori mengenai pengaruh kuat yang ditimbulkan oleh media massa adalah Noelle-Neumann melalui pandangannya mengenai gelombang kebisuan.

2. Uses, Gratifications and Depedency
Salah satu dari teori komunikasi massa yang populer dan serimg diguankan sebagai kerangka teori dalam mengkaji realitas komunikasi massa adalah uses and gratifications. Pendekatan uses and gratifications menekankan riset komunikasi massa pada konsumen pesan atau komunikasi dan tidak begitu memperhatikan mengenai pesannya. Kajian yang dilakukan dalam ranah uses and gratifications mencoba untuk menjawab pertanyan : “Mengapa orang menggunakan media dan apa yang mereka gunakan untuk media?” (McQuail, 2002 : 388). Di sini sikap dasarnya diringkas sebagai berikut :

Studi pengaruh yang klasik pada mulanya mempunyai anggapan bahwa konsumen media, bukannya pesan media, sebagai titik awal kajian dalam komunikasi massa. Dalam kajian ini yang diteliti adalah perilaku komunikasi khalayak dalam relasinya dengan pengalaman langsungnya dengan media massa. Khalayak diasumsikan sebagai bagian dari khalayak yang aktif dalam memanfaatkan muatan media, bukannya secara pasif saat mengkonsumsi media massa(Rubin dalam Littlejohn, 1996 : 345).

Di sini khalayak diasumsikan sebagai aktif dan diarahkan oleh tujuan. Anggota khalayak dianggap memiliki tanggung jawab sendiri dalam mengadakan pemilihan terhadap media massa untuk mengetahui kebutuhannya, memenuhi kebutuhannya dan bagaimana cara memenuhinya. Media massa dianggap sebagai hanya sebagai salah satu cara memenuhi kebutuhan individu dan individu boleh memenuhi kebutuhan mereka melalui media massa atau dengan suatu cara lain. Riset yang dilakukan dengan pendekatan ini pertama kali dilakukan pada tahun 1940-an oleh Paul Lazarfeld yang meneliti alasan masyarakat terhadap acara radio berupa opera sabun dan kuis serta alasan mereka membaca berita di surat kabar (McQuail, 2002 : 387). Kebanyakan perempuan yang mendengarkan opera sabun di radio beralasan bahwa dengan mendengarkan opera sabun mereka dapat memperoleh gambaran ibu rumah tangga dan istri yang ideal atau dengan mendengarkan opera sabun mereka merasa dapat melepas segala emosi yang mereka miliki. Sedangkan para pembaca surat kabar beralasan bahwa dengan membeca surat kabar mereka selain mendapat informasi yang berguna, mereka juga mendapatkan rasa aman, saling berbagai informasi dan rutinitas keseharian (McQuail, 2002 : 387).

Riset yang lebih mutakhir dilakukan oleh Dennis McQuail dan kawan-kawan dan mereka menemukan empat tipologi motivasi khalayak yang terangkum dalam skema media – persons interactions sebagai berikut :
Diversion, yaitu melepaskan diri dari rutinitas dan masalah; sarana pelepasan emosi
Personal relationships, yaitu persahabatan; kegunaan sosial
Personal identity, yaitu referensi diri; eksplorasi realitas; penguatan nilai
Surveillance (bentuk-bentuk pencarian informasi) (McQuail, 2002 : 388).
Seperti yang telah kita diskusikan di atas, uses and gratifications merupakan suatu gagasan menarik, tetapi pendekatan ini tidak mampu melakukan eksplorasi terhadap berbagai hal secara lebih mendalam. Untuk itu mari sekarang kita mendiskusikan beberapa perluasan dari pendekatan yang dilakukan dengan teori uses and gratifications.

3. Teori Pengharapan Nilai (The Expectacy-Value Theory)
Phillip Palmgreen berusaha mengatasi kurangnya unsur kelekatan yang ada di dalam teori uses and gratification dengan menciptakan suatu teori yang disebutnya sebagai expectance-value theory (teori pengharapan nilai).
Dalam kerangka pemikiran teori ini, kepuasan yang Anda cari dari media ditentukan oleh sikap Anda terhadap media –kepercayaan Anda tentang apa yang suatu medium dapat berikan kepada Anda dan evaluasi Anda tentang bahan tersebut. Sebagai contoh, jika Anda percaya bahwa situated comedy (sitcoms), seperti Bajaj Bajuri menyediakan hiburan dan Anda senang dihibur, Anda akan mencari kepuasan terhadap kebutuhan hiburan Anda dengan menyaksikan sitcoms. Jika, pada sisi lain, Anda percaya bahwa sitcoms menyediakan suatu pandangan hidup yang tak realistis dan Anda tidak menyukai hal seperti ini Anda akan menghindari untuk melihatnya.

4. Teori Ketergantungan (Dependency Theory)
Teori ketergantungan terhadap media mula-mula diutarakan oleh Sandra Ball-Rokeach dan Melvin Defleur. Seperti teori uses and gratifications, pendekatan ini juga menolak asumsi kausal dari awal hipotesis penguatan. Untuk mengatasi kelemahan ini, pengarang ini mengambil suatu pendekatan sistem yang lebih jauh. Di dalam model mereka mereka mengusulkan suatu relasi yang bersifat integral antara pendengar, media. dan sistem sosial yang lebih besar.
Sejalan dengan apa yang dikatakan oleh teori uses and gratifications, teori ini memprediksikan bahwa khalayak tergantung kepada informasi yang berasal dari media massa dalam rangka memenuhi kebutuhan khalayak bersangkutan serta mencapai tujuan tertentu dari proses konsumsi media massa. Namun perlu digarisbawahi bahwa khalayak tidak memiliki ketergantungan yang sama terhadap semua media. Lalu apa yang sebenarnya melandasi ketergantungan khalayak terhadap media massa ?

Ada dua jawaban mengenai hal ini. Pertama, khalayak akan menjadi lebih tergantung terhadap media yang telah memenuhi berbagai kebutuhan khalayak bersangkutan dibanding pada media yang menyediakan hanya beberapa kebutuhan saja. Jika misalnya, Anda mengikuti perkembangan persaingan antara Manchester United, Arsenal dan Chelsea secara serius, Anda mungkin akan menjadi tergantung pada tayangan langsung Liga Inggris di TV 7. Sedangkan orang lain yang lebih tertarik Liga Spanyol dan tidak tertarik akan Liga Inggris mungkin akan tidak mengetahui bahwa situs TV 7 berkaitan Liga Inggris telah di up date, atau tidak melihat pemberitaan Liga Inggris di Harian Kompas.

Sumber ketergantungan yang kedua adalah kondisi sosial. Model ini menunjukkan sistem media dan institusi sosial itu saling berhubungan dengan khalayak dalam menciptakan kebutuhan dan minat. Pada gilirannya hal ini akan mempengaruhi khalayak untuk memilih berbagai media, sehingga bukan sumber media massa yang menciptakan ketergantungan, melainkan kondisi sosial.
Untuk mengukur efek yang ditimbulkan media massa terhadap khalayak, ada beberapa metode yang dapat digunakan, yaitu riset eksperimen, survey dan riset etnografi.
'sumber:http://jurusankomunikasi.blogspot.com/2009/04/teory-komunikasi-massa.html'

Pak Harto di Langit Kepemimpinannya

BAB I
PENDAHULUAN
Kepemimpinan dalam prespektif Islam pada hakikatnya merupakan suatu amanah. Dalam salah satu hadis Nabi disebutkan bahwa, “Setiap Kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban.” Karena itu, kepemimpinan menjadi unsur yang sangat strategis dalam kehidupan suatu jamaah atau masyarakat.
Kepemimpinan dari seorang tokoh yang disegani dan dihormati secara luas oleh masyarakat dapat pula menjadi faktor yang menyatukan suatu bangsa-negara.
Pemimpin ini menjadi panutan sebab warga masyarakat mengidentifikasikan diri kepada sang pemimpin, dan ia dianggap sebagi “penyambung lidah” masyarakat.
Akan tetapi, peimpin saja mungkin tidak menjamin bagi terbentuknya suatu bangsa-negara sebab pengaruh pemimpin bersifat sementara. Dalam hal ini ada dua penyebab. Pertama, umur manusia (pemimpin) terbatas, dan khususnya pemimpin kharismatik tidak dapat diwariskan. Pemimpin tidak hanya yang masih hidup dapat berfungsi sebagai simbol persatuan bangsa, tetapi juga yang sudah menjadi pahlawan. Kedua, tipe kepemimpinan berkaitan erat dengan perkembangan masyarakat. Masyarakat yang berubah menghendaki tipe pemimpin yang berubah pula. Pada pihak lain tidak hanya pemimpin kharismatik dipandang sebagai simbol persatuan bangsa, tetapi juga di negara-negara yang maju seorang pemimpin diharapkan tampil sebagai “wakil” atau personifikasi bangsa di dalam maupun di luar negeri.[1]
Drama terbesar dan paling tragis dalam sejarah Indonesia tentulah drama kehidupan Soeharto. Setelah tiga decade berkuasa, ditakuti, disembah bagai dewa, kini Soeharto paling terhujat di Indonesia. Sebagai pemimpin bangsa dan negara Republik Indonesia, Pak Harto menjadi pusat perhatian dan sorotan, tidak saja dari semua warga Republik ini, tetapi oleh para pakar dan pemerhati politik dari manca negara.
Rezim Orde Baru yang ia bangun selama berkuasa, banyak memunculkan kontroversi. Ada yang memuji kepemimpinan beliau sebagai “Bapak Pembangunan” dan lainnya namun banyak juga yang mengutuk dengan “Gantung Soeharto”. Bahkan ketika beliau sakit sampai akhirnya meninggal pada tanggal 28 Januari 2008 pada usia 86 tahun, ia masih menjadi bahan perbincangan yang menimbulkan banyak kotroversi. Hal itu menyangkut kelanjutan kasus korupsi yang di dakwakan kepada almarhum, dan kasus lai selama menjabat sebagai presiden.
Kehidupan Pak Harto sebagai seorang pemimpin bangsa memang menarik untuk dikaji. Meskipun banyak sisi negatif yang telah melekat pada beliau, namun banyak pula pelajaran berharga yang dapat kita jadikan bekal untuk memimpin. Untuk itulah, melalui makalah ini penulis mencoba menyampaikan secuil kepemimpinan Pak Harto, dengan harapan bisa mengambil pelajaran tentang kepemimpinan beliau.

Presiden Indonesia ke-2
Masa jabatan : 12 Maret 1967 – 21 Mei 1998
Wakil : -Sri Sultan Hamengkubuwono IX (1973)
-Adam Malik (1978)
-Umar Wirahadikusumah (1983)
-Sudharmono (1988)
-Try Sutrisno (1993)
-B.J. Habibie (1998)

Pendahulu : Soekarno
Pengganti : B.J. Habibie
Lahir : 8 Juni 1921,Kemusuk, DI Yogyakarta
Meninggal : 27 Januari 2008 (umur 86),Jakarta, Indonesia
Partai politik : Golkar
Pasangan : Siti Hartinah (almh.)
Agama : Islam


BIOGRAFI SINGKAT H.M. SOEHARTO


Jenderal Besar Purnawirawan Haji Muhammad Soeharto, (lahir di Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta, 8 Juni, 1921 – Jakarta, 27 Januari 2008) adalah Presiden Indonesia yang kedua, menggantikan Soekarno. Setelah dirawat selama sekitar 24 hari di rumah sakit, ia meninggal akibat kegagalan multifungsi organ di RS Pusat Pertamina, Jakarta Selatan pukul 13.10 WIB. Secara informal, "Pak Harto" juga dipakai untuk menyapanya.
Ia mulai menjabat sejak keluarnya Supersemar pada tanggal 12 Maret 1967 sebagai Penjabat Presiden, dan setahun kemudian dilantik sebagai Presiden pada tanggal 27 Maret 1968 oleh MPRS.
Soeharto dipilih kembali oleh MPR pada tahun 1973, 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998. Pada tahun 1998, masa jabatannya berakhir setelah mengundurkan diri pada tanggal 21 Mei tahun tersebut, menyusul terjadinya Kerusuhan Mei 1998 dan pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa. Ia merupakan orang Indonesia terlama dalam jabatannya sebagai presiden.
Soeharto menikah dengan Siti Hartinah ("Tien") dan dikaruniai enam anak, yaitu Siti Hardijanti Rukmana (Tutut), Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Hariyadi (Titiek), Hutomo Mandala Putra (Tommy), dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek).[2]




BAB II

A. KEPERIBADIAN SOEHARTO
Kepribadian Soeharto dipengaruhi oleh banyak faktor. Hal itu dapat dilihat dari latar belakang beliau, yakni sebagai seorang muslim, sebagai seorang keturunan jawa, dan sebagai anggota militer. Ketiga latar belakang Soeharto tersebut, secara langsung ataupun tidak telah membentuk pribadi seorang Soeharto. Kepribadian tersebut yang kemudian juga berpengaruh pada setiap kebijakannya.
Ketiga faktor tersebut yang akan menjadi fokus dalam pembahasan kali ini. Ketiganya akan terlihat dalam sifat, perilaku, dan kebiasaan-kebiasaan Soeharto.
1. Soeharto Sebagai Keturunan Jawa
Konsep Jawa dapat terlihat penerapannya pada Kerajaan-kerajaan Jawa. Kerajaan jawa merupakan tempat yang sangat kental unsur-unsur kejawen. Pola kehidupan raja, keluarganya, pejabat pemerintah diatur oleh tradisi-tradisi Jawa.
Salah satu kerajaan Jawa yang terkenal adalah Kerajaan Mataram. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa dinasti Mataram adalah dinasti yang muncul dari keluarga petani. Karena itu untuk dapat diterima rakyat banyak dinasti atau para raja dari dinasti ini terus berusaha memperlihatkan keunggulannya sebagai trahing kusuma, rembesing madu, wijining atapa, tedhaking andana warih.[3] Sopan santun, tutur katanya lemah lembut, sumeh (murah senyum), tak pernah marah, ramah, dll, merupakan sifat-sifat yang melekat pada diri soeharto. Kesemuanya itu tak lepas dari usaha soeharto untuk menarik simpati rakyat demi menunjukkan keunggulan moralnya.
Dalam sejarahnya, dinasti Mataram selalu merasa dirinya terancam oleh pusat-pusat kekuasaan lain. Oleh karena itu dinasti Mataram selalu terlibat dalam usaha-usaha untuk terus mengukuhkan diri. Di samping itu dinasti Mataram memandang kekuasaan itu sebagai suatu keunggulan, yang utuh dan bulat. Artinya kekuasaan itu tidak boleh bersaing, tidak terkotak-kotak atau terbagi-bagi, dan menyeluruh (tidak hanya mengenai bidang-bidang tertentu). Kekuasaan raja seperti kekuasaan dewa, yang agung dan binatara. Karena itu raja-raja mataram itu sering menggambarkan diri sebagai raja yang agung dan binathara, baudhendha nyakrawati (agung laksana dewa, pemelihara hukum, pemegang kekuasaan).[4] Hal itu juga dilakukan semasa kekuasaan soeharto. Dimana ia mampu memimpin selama 30 tahun tanpa ada yang mampu menurunkannya dari kursi presiden.
Dalam kedudukan sebagai penguasa negara memang raja berhak mengambil tindakan apa saja dengan cara bagaimana saja terhadapkerajaannya, segala isi yang ada didalamnya, termasuk hidup manusia. Karena itu kalau raja menginginkan sesuatu, dengan mudah ia akan memerintahkan untuk mengambilnya. Kalau yang merasa berhak atas sesuatu itu mempertahankannya, diperangilah dia. Sebaliknya kalau ada orang yang dipandangn tidak pantas berada dalam kedudukannya, dengan mudah saja raja mengambil kedudukannya, dengan membunuhnya bila perlu. [5] Beberapa kasus pembantaian masal (malari, tanjung priyok), menjadi bukti bahwa soeharto juga mengikuti konsep tersebut. Selama berkuasa soeharto tidak memberi kesempatan kepada lawan-lawannya untuk mengusik kursinya.
Sebagai orang asli keturunan Jawa, maka Soeharto banyak menerapkan konsep-konsep Jawa dalam kehidupannya sebagai seorang presiden. Sehingga tak salah jika M.H. Ainun Najib (Cak Nun) mengatakan bahwa sistem yang dibangun soeharto adalah sistem kerajaan bukan republik.

2. Soeharto Sebagai Seorang Muslim.
Presiden Soeharto memulai hari kerjanya di waktu ia bangun pada kira-kira pukul 05.00. Sesudah mandi dan ke belakang sebagaimana yang dilakukannya setiap pagi, iapun mengerjakan sholat susbuh. Selesai sholat subuh, iapun minum secangkir kopi di kamar kerjanya yang kecil di rumah keluarga Soeharto, jalan Cendana No 8, Menteng Jakarta.[6] Dari cerita tersebut, dapat dikatakan bahwa Soeharto termasuk muslim yang taat kepada Allah SWT.
Sebagai seorang muslim AM Fatwa mempunyai analisis lain tentang diri Soeharto. Fatwa menujuk salah satu momentum penting dalam perjalanan hidup Soeharto, ibadah haji tahun 1991. Ibadah haji bukanlah peristiwa biasa. Betapa pun, soeharto adalah seorang Kepala Negara Muslim. Fatwa mengatakan bahwa, “Perubahan yang terjadi pada sosok Soeharto itu sunnatullah. Usia dan pengalaman-pengalamannya kan membawa kepada kearifan,” katanya.[7]
Selain itu, Ketua Umum Majelis Dakwah Islamiyah (MDI), Chalid Mawardi, mengusulkan agar Soeharto diakui sebagai Pemimpin Tertinggi Umat Islam Indonesia (Amirul Muslimin al Indonesiy). Menurut politisi NU ini, soeharto telah banyak melakukan terobosan-terobosan yang menguntungkan umat Islam. Chalid yakin bahwa soeharto benar-benar memperjuangkan Islam “dari posisinya sebagai Presiden Republik Indonesia’. Apa yang telah dilakukan soeharto dengan Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila, yang telah membangun lebih dari 700 masjid, dan Yayasan Dharmis, yang telah membiayai pengiriman ribuan da’I ke daerah-daerah transmigran, serta berbagai kebijakan positif terhadap umat Islam Indonesia, bukanlah hal yang kecil.[8]

3. Soeharto Sebagai Seorang Anggota Militer.
Kesempatan yang dinanti-nanti Soeharto begitu lama, akhirnya datang juga ketika pengantar surat menyerahkan sepucuk surat resmi yang isinya singkat sekali. Soeharto harus segera melapor untuk dinas militer. Anak muda itu, dengan badan yang tegap dan cerdas, dengan mudah diterima masuk Sekolah Militer di Gombong, Jawa Tengah, pada tanggal 1 Juni 1940.[9] Perjalanan militer inilah yang kemudian membuat Soeharto menjadi orang yang terkenal.
Dari Kepala Staf Divisi Diponegoro, Soeharto naik dalam beberapa bulan menjadi Panglima Divisi. Pada tanggal 1 Januari 1957, dinaikkan pangkatnya menjadi Kolonel (Infanteri). Di waktu itu catatan ringkas mengenai dirinya adalah: umur 35 tahun; sudah lebih 16 tahun dinas militer; berpengalaman sebagai Komandan di waktu perang dan damai. Latar belakang militer ini, kemudian membentuk sifat-sifatnya yang utama: pemberani, berdisiplin, berhati-hati dan dapat dipercaya.[10]
Sifat lain yang muncul ketika ia di militer ialah Soeharto sangat sadar akan masalah-masalah yang dihadapi oleh prajurit-prajuritnya, baik di waktu dinas maupun di luar dinas. Ia menumpahkan perhatiaannya kepada kesejahteraan anak buahnya.menurut doktrin militer Indonesia, mengingat kehidupan rakyat banyak yang masih melarat, termasuk tentara, panglima Divisi diponegoro menekankan perlunya dibangun kegiatan kooperasi Angakatn Darat.[11]
Selain itu Soeharto membangun dan memperluas konsep "Jalan Tengah"-nya Jenderal Nasution menjadi konsep dwifungsi untuk memperoleh dukungan basis teoritis bagi militer untuk memperluas pengaruhnya melalui pejabat-pejabat pemerintahan, termasuk cadangan alokasi kursi di parlemen dan pos-pos utama dalam birokrasi sipil. Peran dwifungsi ini adalah peran militer di bidang politik yang permanen.

B. KONSEP DIRI SOEHARTO SEBAGAI SEORANG PRESIDEN.
Konsep diri atau peran Soeharto sebagai seorang presiden telah dibangun puluhan tahun, dikonfirmasikan kabinet-kabinetnya, TNI (dulu ABRI), MPR dan lembaga-lembaga negara lainnya, media massa (termasuk buku-buku yang menyanjung dan menjilatnya, seperti Manajemen Presiden Soeharto), dan seluruh rakyatnya. Untuk memperkukuh peran sosialnya, Soeharto menggunakan mistifikasi. Berbagai upacara resmi, formalitas, dan gelar yang impresif (misalnya “Bapak Pembangunan”) yang digunakan untuk menciptakan kharismanya. Salah satu tehnik mistifikasi Soeharto adalah menjaga jarak sosial dengan khalayak. Selama puluhan tahun di dalam negeri ia hampir tidak pernah bersedia diwawancarai oleh wartawan, baik media cetak ataupun elektronik. Saat berlangsung dialog dengan rakyat kecil di daerah, yang biasanya disiarkan TVRI dalam “Laporan Khusus” sesudah “Dunia Dalam Berita” pukul 21.00, dialog itu tampak kaku dan artifisial, karena berdasarkan skenario yang telah disusun. Dengan membatasi kontak sosial itu, Soeharto berusaha menciptakan kekaguman atau keterpesonaan khalayak kepada dirinya. Sikap Soeharto yang sedikit rendah hati boleh jadi membuat khalayak terkesima untuk melihat presiden lebih dekat.[12]
Konsep diri itulah yang menjadi salah satu faktor Soeharto mampu berkuasa selama tiga dekade. Selain itu mungkin banyak faktor lain yang sering menimbulkan kontroversi dalam setiap pembahasannya.

C. MODEL KEPEMIMPINAN SOEHARTO
Ada beberapa model-model atau pola-pola kepemimpinan, yaitu pemimpin agama, pemimpin politik, pemimpin organisasi sosial kemasyarakatan, dan pemimpin perusahaan.
Salah satu tipe aktor politik yang memiliki pengaruh dalam proses politik, adalah pemimpin poitik dan pemerintahan. Dalam masyarakat terdapat stratifikasi dari segi kekuasaan yang dimiliki: yang memiliki kekuasaaan disebut elit (pemimpin), dan yang tidak memiliki kekuasaan, dan karena itu mematuhi pemilik kekuasaan disebut massa rakyat.[13] Dengan demikian Pak Harto termasuk pemimpin politik yang sekaligus memiliki kekuasaan atau elit. Hal itu didukung oleh nilai-nilai yang melekat pada diri Pak Harto, seperti prestise, kekayaan ataupun kewenangan. Sebagai pemimpin politik, maka Model kepemimpinan Pak Harto bisa dilihat sebagai berikut,

1. Dilihat Dari Motif Pencarian Kekuasaan.
Model kepemimpinan Soeharto dilihat dari motif mencari kekuasaan bisa dikatakan bermotif kompensasi. Ada enam perilaku yang dianggap sebagai indikator kepribadian dari pencari kekuasaan demi kompensasi. Keenam perilaku tersebut adalah:
a. Ketidaksediaan mengizinkan orang lain mengambil bagian dalam bidang kekuasaannya.
b. Ketidaksediaan menerima nasihat mengenai fungsi yang seharusnya dalam bidang kekuasaannya.
c. Ketidaksediaan mendelegasikan kewajiban kepada pihak lain, kewajiban yang menjadi bagian utuh dari bidang kekuasaannya.
d. Ketidaksediaan berkonsultasi dengan orang lain yang menyatakan diri memiliki kekuasaan, mengenai peranan dalam bidang kekuasaannya.
e. Ketidaksediaan memberikan informasi kepada orang lain mengenai peranan dalam bidang kekuasaannya.
f. Keinginan untuk membentuk dan mengenakan sistem yang tertata kepada orang lain dalam arena politik.[14]
Keenam perilaku tersebut ada pada kepemimpinan Pak Harto. Perilaku pertama misalnya dibuktikan dengan kepemimpinan Pak Harto yang bertahan 30 tahun sebagai Presiden. Selain itu kebebasan press yang terkungkung selama rezim Orde baru berkuasa, yang mengakibatkan proses penyebaran informasi menjadi tidak sehat merupakan indikator perilaku ke-lima.

2. Dilihat Dari Distribusi Kekuasaan
Menurut Andrian distribusi kekuasaan terbagi dalam tiga model, yakni
a. Model elit yang memerintah, melukiskan kekuasaan sebagai dimiliki oleh kelompok kecil orang yang disebut elit
b. Model pluralis, menggambarkan kekuasaan sebagai dimiliki dengan berbagai kelompok sosial dalam masyarakat dan berbagai lembaga pemerintahan.
c. Model populis, melukiskan kekuasaan sebagai dipegang oleh setiap individu warga negara atau rakyat secara kolektif.[15]
Model pluralis mungkin bisa dikatakan cocok untuk menggambarkan distribusi kekuasaan selama kepemimpinan Soeharto. Dimana kita meliahat di Indonesia terdapat pembagian kekuasaan dalam 3 lembaga yakni, Eksekutif, Legislatif, Yudikatif. Namun menurut penulis, kepemimpinan Soeharto lebih cocok dikategorikan ke dalam model elit. Hal itu karena pada masa Orde Baru kekuasaan hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang. Tidak ada kesempatan bagi mereka yang ingin berkuasa. Kalaupun ada itu tidak bertahan lama. Kekuasaan Pak Harto selama 30 tahun yang tak tergoyahkan, menjadi bukti hal itu.

3. Dilihat Dari Hubungan Antara Pemimpin Dan Yang Dipimpin.
Menurut Burns, ada dua tipe kepmimpinan berdasarkan hubungan antara yang memipin dan yang dipimpin, yaitu
a. Kepemimpinan Transaksional
Terjadi manakala seorang pemimpin mengambil prakarsa dalam melakukan kontak dengan pihak lain untuk tujuan pertukaran nilai-nilai yang dianggap penting. Yang dipertukarkan itu mencakup bidang politik seperti suara (votes) dan kekuasaan, ekonomi, seperti uang dan kekayaan lain, dan psikologi seperti kesediaan mendengar keluhan orang lain. Kepemimpinan seperti ini tidak menunjukkan kesamaan tujuan antara pemimpin dan yang dipimpin.
b. Kepemimpinan Transformatif
Terjadi manakala seorang atau lebih terlibat dengan orang lain sedemikian rupa sehingga mengangkat pemimpin dan yang dipimpin ke tingkat moral, motivasi, dan kegiatan yang lebih tinggi. Tujuan mereka yang tadinya berpisah menjadi satu.[16]
Melihat kedua tipe di atas, maka kepemimpinan Soeharto cenderung kepada tipe kepemimpinan transaksional. Hal itu terlihat dari adanya sentralisir kekuasaan selama rezim Orde baru. Dimana Pak Harto berkuasa dalam setiap struktur pemerintahan. . Lebih jelas lagi kita lihat bagaimana semua pegawai negeri sipil harus memilih Golkar sebagai partai. Sehingga hubungan yang terjadi antara pemimpin dan rakyat seperti hubungan penjual yang memaksakan barang daganannya. Bahkan lebih ngeri lagi, karena selama orde baru mereka yang menolak memilih Golkar maka akan mendapat murka penguasa.



BAB III
PENUTUP
A. PENINGGALAN SOEHARTO
1. Bidang Politik
Sebagai presiden Indonesia selama lebih dari 30 tahun, Soeharto telah banyak mempengaruhi sejarah Indonesia. Dengan pengambil alihan kekuasaan dari Soekarno, Soeharto dengan dukungan dari Amerika Serikat memberantas paham komunisme dan melarang pembentukan partai komunis. Dijadikannya Timor Timur sebagai provinsi ke-27 (saat itu) juga dilakukannya karena kekhawatirannya bahwa partai Fretilin (Frente Revolucinaria De Timor Leste Independente /partai yang berhaluan sosialis-komunis) akan berkuasa di sana bila dibiarkan merdeka. Hal ini telah mengakibatkan menelan ratusan ribu korban jiwa sipil.

2. Bidang Kesehatan
Untuk mengendalikan jumlah penduduk Indonesia, Soeharto memulai kampanye Keluarga Berencana yang menganjurkan setiap pasangan untuk memiliki secukupnya 2 anak. Hal ini dilakukan untuk menghindari ledakan penduduk yang nantinya dapat mengakibatkan berbagai masalah, mulai dari kelaparan, penyakit sampai kerusakan lingkungan hidup.

3. Bidang Pendidikan
Dalam bidang pendidikan Soeharto mempelopori proyek Wajib Belajar yang bertujuan meningkatkan rata-rata taraf tamatan sekolah anak Indonesia. Pada awalnya, proyek ini membebaskan murid pendidikan dasar dari uang sekolah (Sumbangan Pembiayan Pendidikan) sehingga anak-anak dari keluarga miskin juga dapat bersekolah. Hal ini kemudian dikembangkan menjadi Wajib Belajar 9 tahun.
Tiga hal di atas hanyalah sedikit dari peninggalan Soeharto bagi Indonesia. Meskipun banyak juga peninggalan lain yang patut di puji, namun banyak pula peninggalan yang menyesengsarakan rakaya berupa hutang luar negeri dan sebagainya.[17]

B. WAFATNYA SOEHARTO
Presiden RI Kedua HM Soeharto wafat pada pukul 13.10 WIB Minggu, 27 Januari 2008. Jenderal Besar yang oleh MPR dianugerahi penghormatan sebagai Bapak Pembangunan Nasional, itu meninggal dalam usia 87 tahun setelah dirawat selama 24 hari (sejak 4 sampai 27 Januari 2008) di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta.
Berita wafatnya Pak Harto pertama kali diinformasikan Kapolsek Kebayoran Baru, Kompol. Dicky Sonandi, di Jakarta, Minggu (27/1). Kemudian secara resmi Tim Dokter Kepresidenan menyampaikan siaran pers tentang wafatnya Pak Harto tepat pukul 13.10 WIB Minggu, 27 Januari 2008 di RSPP Jakarta akibat kegagalan multi organ.
Kemudian sekitar pukul 14.40, jenazah mantan Presiden Soeharto diberangkatkan dari RSPP menuju kediaman di Jalan Cendana nomor 8, Menteng, Jakarta. Ambulan yang mengusung jenazah Pak Harto diiringi sejumlah kendaraan keluarga dan kerabat serta pengawal. Sejumlah wartawan merangsek mendekat ketika iring-iringan kendaraan itu bergerak menuju Jalan Cendana, mengakibatkan seorang wartawati televisi tertabrak.
Di sepanjang jalan Tanjung dan Jalan Cendana ribuan masyarakat menyambut kedatangan iringan kendaraan yang membawa jenazah Pak Harto. Rangkaian kendaraan yang membawa jenazah mantan Presiden Soeharto memasuki Jalan Cendana, sekitar pukul 14.55, Minggu (27/1).
Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla dan beberapa menteri yang tengah mengikuti rapat kabinet terbatas tentang ketahanan pangan, menyempatkan mengadakan jumpa pers selama 3 menit dan 28 detik di Kantor Presiden, Jakarta, Minggu (27/1). Presiden menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas wafatnya mantan Presiden RI Kedua Haji Muhammad Soeharto.
Minggu Sore pukul 16.00 WIB, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, lebih dulu melayat ke Cendana.
Pemakaman
Jenazah mantan presiden Soeharto diberangkatkan dari rumah duka di Jalan Cendana, Jakarta, Senin, 28 Januari 2008, pukul 09.00 WIB menuju Bandara Halim Perdanakusuma. Selanjutnya jenazah akan diterbangkan dari Bandara Halim Perdanakusuma ke Solo pukul 10.00 WIB untuk kemudian dimakamkan di Astana Giri Bangun, Solo, Senin (28/1).[18]
Cak Nun memberikan analisis tentang Astana Giri Bangun. Dalam sebuah talk show di salah satu televisi swasta, cak Nun menyampaikan bahwa ide untuk membuat area pemakaman keluarga dengan arsitektur sedemikian rupa, tak akan pernah lahir selain dari orang-orang yang mempunyai pemikiran tentang konsep seorang raja, khususnya raja jawa. Hal ini membuktikan bahwa faktor keturunannya sebagai seorang jawa, salah satunya direalisasikan ketika ia kembali kepada Allah SWT.




DAFTAR PUSTAKA

ü Surbakti, Ramlan, Memahami Ilmu Politik, Jakarta: Gasindo, Cet 7, 2007.
ü Roeder, O.G., Anak Desa Biografi Presiden Soeharto, Jakarta: Gunung Agung, Cet.5, 1984.
ü Mujianto, G, konsep Kekuasaan Jawa penerapannya oleh Raja-raja Jawa, Yogyakarta: Kanisius, Cet.7, 2002.
ü Husaini, Adian, Soeharto 1988, Jakarta: Gema Insani Press, 1996
ü Mulyana, Deddy, Prof. Dr., Komunikasi Populer kajian Komunikasi dan Budaya Kontemporer, Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004.
ü http//id.wikipedia.org/wiki/Soeharto#column-one, Wikipedia Indonesia, Ensiklopedia Bebas Berbahasa Indonesia

[1] Ramlan Surbakti, Memahami Ilmu Politik, Jakarta: Gasindo, Cet 7, 2007. hlm: 45
[2] Diakses dari http//id.wikipedia.org/wiki/Soeharto#column-one, Wikipedia Indonesia, Ensiklopedia Bebas Berbahasa Indonesia

[3] Drs. G. Moedjanto, M.A, Konsep Kekuasaan Jawa Penerapannya oleh Raja-raja Mataram, Yogyakarta: Kanisius, Cet.7, 2002, hlm: 26
[4] Ibid, hlm: 28
[5] Drs. G. Moedjanto, M.A, Op Cit, hlm: 78
[6] O.G Roeder, Anak Desa Biografi Presiden Soeharto, Jakarta:Gunung Agung, Cet.V, 1984, hlm:263.
[7] Adian Husaini, Soeharto 1988, Jakarta: Gema Insani Press, 1996. hlm:35
[8] Adian Husaini, Op Cit, hlm:36
[9] O.G Roeder, Op Cit, hlm:170
[10] Ibid, hlm:216
[11] Ibid, hlm:217
[12] Prof. Dr. Deddy Mulyana, M.A, Komunikasi Populer Kajian Komunikasi dan Budaya Kontemporer, Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004
[13] Adian Husaini, Soeharto 1988, Jakarta: Gema Insani Press, 1996. hlm:133

[14] Ramlan Surbakti, Op Cit. hlm: 139
[15] Ibid. hlm: 74
[16]
[17] Diakses dari http//id.wikipedia.org/wiki/Soeharto#column-one, Wikipedia Indonesia, Ensiklopedia Bebas Berbahasa Indonesia


[18] Diakses dari http//id.wikipedia.org/wiki/Soeharto#column-one, Wikipedia Indonesia, Ensiklopedia Bebas Berbahasa Indonesia
sumber:http://maschoirudin.blogspot.com/2010/01/kepemimpinan-soeharto.html